Tampilkan postingan dengan label Cerita Kecil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Kecil. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Juni 2012

012


Bersama sinar mentari yang hangat, aku memulai ceritaku di sini. Tahun pertama diawali dengan rasa takut, diwarnai dengan canda, tawa, kehangatan, kebohongan, tangis, bahkan sesuatu yang hanya pantas disebut cinta monyet. Menginjak tahun kedua semuanya berubah. Kebebasan benar-benar kudapatkan di tahun kedua. Aku menemukan sosok-sosok hebat yang selalu "melukiskan" senyum di wajahku dan tak pernah ragu untuk "menggenggam erat tanganku". Dunia ini seakan menjadi milikku sendiri. Namun semua berjalan begitu cepat. Tahun ketiga datang dengan penuh kebimbangan. Banyak rasa sakit yang kurasakan meski tak sedikit kebahagiaan yang kudapatkan. Di tahun inilah aku belajar banyak hal. Persahabatan itu bukan hanya masalah membenarkan dan dibenarkan, namun juga menyalahkan dan disalahkan. Cinta itu bukanlah suatu perkara mudah dan tak pernah cukup hanya diungkapkan dengan kata-kata. Cinta itu berarti menerima, memberi, menambah, bahkan melepas.

Terimakasih untuk orang-orang hebat di 8A dan 9C, juga orang-orang hebat lainnya di seluruh sudut Herucakra. Hari ini selesai sudah "jatahku" setelah tiga tahun merangkai cerita di sini. Selamat jalan, kawan.. Tetaplah berjuang, sahabat.. Salam sukses untuk seluruh pasukan Herucakra 012 dan tentunya seluruh keluarga besar SMPN 1 Bantul ♥♥ \(´▽`)/

Minggu, 27 Mei 2012

my beloved bedroom ~(˘▾˘~)

My favourite places to relax is my bedroom. I like this place because it is where I feel comfortable, and it is a warm place to stay. My bedroom isn't very large, but it has many things I like.
I really love staying in my bedroom.

my bed and my doll

my bookcase

my big wardrobe


Semangat Pagi


Kemarilah.. Genggam tangan ini. Tegakkanlah kepalamu. Lihat! Mentari baru saja muncul dengan sinarnya yang hangat. Apa lagi yang kamu takutkan? Semua akan baik-baik saja. Tetaplah tersenyum, karena hidup tak berhenti sampai di sini. 

Jumat, 23 Desember 2011

Dalam Sunyi

Sekarang udah pukul 00:40 dan aku justru menghidupkan komputer dengan mata berbinar-binar. Baru saja aku melahap selembar roti dengan selai kacang dan segelas air putih yang terasa begitu segar di tenggorokanku. Badanku bergoyang perlahan ke kanan dan ke kiri mengikuti alunan musik yang diputar oleh salah satu stasiun radio. 

Seperti telah direncanakan sebelumnya, kepenatanku atau yang lebih akrab disebut kegalauanku terasa semakin lengkap. Lagu Rindu punya Agnes Monica yang seakan membawa virus-virus galau terdengar begitu jelas di telingaku. Sedangkan di sisi lain tweet-tweet galau memenuhi timelineku. Sedikit senyum yang mengiris nampak di wajahku. Mungkin ini yang harus kurasakan untuk menjadi yang lebih kuat.


Sebelum aku mengakhiri tulisanku ini, aku ingin mengatakan maaf untuk seseorang yang ada di sana. Maaf terlalu sering mengecewakanmu. Dan untuk gadis kecil yang telah kembali menyalakan api semangat dalam tubuhku, yakinlah bahwa aku tak akan meninggalkan dan melupakanmu meski jarak telah memisahkan kita.

Selamat pagi, selamat tidur, dan sampai jumpa!!! :)

Jumat, 25 November 2011

Jum'at, YES!


Hari ini hari Jum'at dan sekarang udah pukul 10 pagi sedangkan diriku masih belum mandi karena pantatku lengket di kursi depan komputer. Aku baru aja ngerasain yang namanya dijatuhin dari langit ke tujuh setelah beberapa saat dibawa terbang tinggi. Sakit banget rasanya. Tapi aku tak menangis seperti setahun yang lalu. Aku bersyukur akan apa yang terjadi hari ini. Ini kenyataan, ini kejujuran, ini menyakitkan, tapi aku harus menikmatinya dengan penuh rasa syukur. Toh kalau aku menangis juga tak akan menyelesaikan masalahku, jadi aku harus tetap tersenyum meski perih ini mulai menjalar ke seluruh tubuhku layaknya racun mematikan.

Tuhan telah sediakan aku penopang-penopang yang selalu bersedia menopangku ketika aku mulai tak sanggup berdiri. Mereka rela ikut merasakan apa yang kurasakan. Mereka rela meluangkan waktunya hanya untuk buatku kembali berdiri tegak. Kembali menantang mentari dengan keberanian penuh.

Aku akan selalu ingat rangkaian kata-kata ini,,,,
Sakitmu bebanku za.
Tapi itu menyiksamu sendiri za. Biar kita selesaikan sama-sama.
Jangan biarkan dirimu sakit za.. Aku nggak rela kamu sakit.
Makasih untuk sahabat-sahabat kecilku terutama untuk perangkai kata-kata di atas, Febraneila Primadina Kusuma. Semoga mimpi kita sama-sama terwujud kawan.. Semangat!!

Kamis, 24 November 2011

Ini Aku


Aku bunga matahari. Ingin selalu dianggap kuat di tengah badai yang terus menyapa. Aku tak takut terluka, tapi bukan berarti aku rela terluka. Aku berusaha untuk menahan air mataku meski lukaku begitu perih. Aku bangga menjadi diriku yang seperti ini meski aku tak boleh berpuas diri. Aku selalu bangga dapat mengenal bunga mawar yang menyimpan kebenciannya padaku di balik senyumnya, atau bunga melati yang selalu buatku tersenyum, juga bunga dahlia yang tak pernah lelah untuk mencoba memahamiku.
Kini aku tengah punya mimpi yang sangat besar. Aku ingin segera meraihnya hingga dapat kugenggam erat agar tak lenyap. Meski kutahu mimpi itu terlalu tinggi, namun aku akan tetap berusaha. Tak kan kupedulikan nyanyian katak di seberang sana ataupun duri-duri yang terus dilemparkan bunga mawar. Yang kuinginkan hanya ingin bahagiakan orang-orang yang telah menaruh harapan besar padaku. Orang-orang yang telah bahagiakanku dan membuatku merasa benar-benar hidup. Karena,
Ini mimpiku
Ini hidupku
Ini ceritaku

Jumat, 11 November 2011

11

Hari ini, tepat pukul 11:11 tanggal 11 bulan 11 tahun 11, aku ada di ruang 11 atau ruang 'sembilan che' (kata sembilan che ada 11 huruf), SMPN 1 Bantul (kata SMPN 1 Bantul juga ada 11 huruf), yang di dalamnya ada 11 anak laki-laki. Di ruangan ini ada dua AC dengan jumlah lubang 11. Jarak pintu masuk dengan tempat dudukku ada 11 langkah. Panjang ruangan ini juga 11 langkah. Pokoknya hari ini semua harus dipaksakan hingga angka 11 muncul.

Rabu, 02 November 2011

Masa Tanpa Penggalauan

Sore ini kembali hujan, sama seperti kemarin. Aromanya masih sama ternyata seperti tiga tahun yang lalu. Aroma yang sangat kurindukan. Waktu seakan berputar, kembali ke masa-masa penuh tawa itu. 
Saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar, hari-hariku seakan seperti mimpi. Penuh canda tawa, kebersamaan, kebebasan, dan kegilaan. Setiap turun hujan, aku tak pernah takut untuk berlarian di bawah rintikan hujan hingga bajuku basah. Aku justru bangga apabila bajuku telah basah kuyup. Jika hari cukup cerah, aku sering merebahkan tubuhku di lapangan hijau depan sekolahku sambil melihat awan bersama Icha dan Kunii. Kami selalu bermain tebak-tebakan tentang gambar apa yang terbentuk dari gumpalan awan putih di atas sana. Kadang, kami juga bermain dengan ayam-ayam di lapangan. Kami selalu mengejar ayam-ayam itu hingga akhirnya ayam-ayam itu pandai terbang. Icha dan Kunii juga pernah meladeni 'kegilaanku' pada masa itu. Saar itu aku baru tergila-gila dengan belalang. Setiap ke sekolah aku selalu membawa toples kaca. Saat istirahat dan pulang sekolah aku mencari belalang di halaman belakang sekolah bersama Icha dan Kunii. Saat pulang sekolah toples itu selalu terisi penuh belalang. Hingga akhirnya ada lima toples kaca yang penuh belalang di kamarku. Tapi lama-kelamaan belalang-belalang itu mati satu-persatu.
Semua kebersamaan itu kini memang tinggal kenangan. Tapi kenangan itu tak akan pernah terhapus di benak ini. Aku rindu akan masa-masa itu, aku rindu akan masa-masa tanpa penggalauan...

Rela, Ikhlas

Mungkin mereka kini meyakinkanku akan sesuatu hal yang dapat buatku bahagia. Tapi sayangnya, aku rasa semua cerita ini tak akan berakhir seperti apa yang selalu mereka katakan. Itu semua terlalu mustahil dan aku tak ingin berangan terlalu tinggi. Toh kalau aku berangan terlalu tinggi dan akhirnya aku terjatuh, aku juga yang akan merasakan sakitnya, bukan mereka. Aku ingin memikirkan hal terburuk yang dapat terjadi agar jika yang menjadi kenyataan adalah 'hal terburuk' itu, aku sudah siap. Aku ingin membuat orang lain bahagia meski aku sendiri terluka.
Ya! Intinya: aku kini rela terluka untuk orang lain karena aku yakin aku sendiri akan bahagia karenanya jika aku ikhlas menjalaninya. 

Minggu, 30 Oktober 2011

Bla bli blu

with Mr. Faris Fantoro and Bunga Harumi Islam @Museum Sonobudoyo
Banyak orang yang datang dan pergi dalam kehidupan ini. Tapi bukan berarti karena ada yang 'baru' maka yang 'lama' dilupakan. Semua tetap sama; sama-sama pernah membuat hidup ini penuh warna. Ya! Terimakasih untuk semua orang yang pernah membuat hidupku berwarna; tangis, tawa, canda, dan amarah. Hidupku indah karena kalian... 

Sabtu, 22 Oktober 2011

Seru-Seruan di Sabtu Ceria

Matahari masih malu-malu di balik gumpalan awan abu-abu pagi ini. Sudah beberapa hari ini kegalauan menyertai setiap langkahku. Emosiku bergejolak tak menentu. Tiba-tiba marah dan berselang tak lama tetawa lalu kembali marah. Ya! Seperti orang gila. Tapi aku masih saja menikmati kegilaanku.
Hari ini ada jam matematika dan kebetulan gurunya lagi workshop jadi cuma ditinggali tugas. Kelas yang awalnya kondusif mulai tak karuan. Ada yang facebookan, ngegosip, bahkan pergi ke kantin. Tapi setelah jam matematika hampir habis, salah satu temanku bilang bahwa AC-nya mati setelah tadi dia denger ledakan kecil. Sebagian teman-temanku termasuk aku keluar kelas untuk melihat. Ternyata benar ada ledakan di dekat kelas 9D. Anak-anak 9D sudah berhamburan turun, karena kebetulan kelas 9D dan juga kelasku ada di lantai atas. Lama-kelamaan muncul api dan semakin lama semakin besar. Kelas 9A dan 9B yang ada di utara kelasku juga mulai turun menyelamatkan diri. Aku dan teman-teman sekelasku masih tenang-tenang saja. Sebagian masih mengerjakan tugas di dalam kelas, sebagian lagi asyik melihat kobaran api yang mulai menimbulkan percikan. Wow! Keadaan seperti ini membuatku teringat akan tahun baru. Percikan dan ledakan itu seakan kembang api yang cantik. Aku dan teman-temanku justru semakin girang ketika ledakan itu semakin besar. Guru-guru yang ada di bawah sudah menyuruh kami untuk turun, tapi kami masih enggan turun. Baru setelah ada ledakan yang begitu besar kami berhamburan turun. Saat aku melihat teman-temanku yang berhamburan turun membawa tas, aku teringat tasku yang masih terdiam di kelas. Saat semua berlari ke utara (untuk turun), aku justru berlari ke selatan untuk menyelamatkan tasku. Akhirnya aku berhasil turun dan apipun mulai bisa dipadamkan. Karena kejadian ini, akhirnya siswa-siswa dipulangkan dan TPM yang direncanakan sore inipun ditiadakan. (´▽`ʃƪ)
Karena hari ini ada pertemuan wali kelas 9, aku memutuskan untuk pulang bersama ayah setelah pertemuan wali usai. Aku menghabiskan waktuku untuk bernostalgia masa-masa SD bersama Ifah, lalu makan siang bareng Tsania atau lebih tepatnya nyuapin Tsania. Setelah itu aku ngekskrim bareng Tsania, Bram sama Vega. Kami jalan kaki ke toko dan menghabiskan waktu sangat banyak di sana, hanya untuk mengikuti kebingungan dalam diri kami sampai-sampai dilihatin terus sama pelayannya. Ini sebenarnya adalah rangkaian acara ulang tahunku. Alias acara nraktir. Setelah mereka merayuku atau bahasa bekennya nge-bully aku (kasar ya?) akhirnya satu ice cream walls Mocha Crumble-pun kami bawa pulang ke sekolah  ┒( '﹏' )┎ (Padahal teman-temanku yang lain, selain mereka, cuma aku traktir paling banyak 5 ribu per-anak. Eh mereka minta jatah 15 ribu per-anak. Maksa banget ya?). Sampai di sekolah kami sholat dhuhur dan langsung makan ice cream di kanjur (kantin kejujuran) sambil berbagi cerita. Mulai dari ngomongin cita-cita sampai keris-keris geje. ~(⌒˛⌒ )~
Pokoknya hari ini seru banget mulai dari lihat "kembang api" sampai makan ice cream walaupun harus pulang dengan dompet kosong. Makasih teman-teman buat hari ini. Makasih ya udah ngebantu aku nguras uang jajan. Yang jelas, makasih udah punya waktu buat aku. (∫˘▽˘)∫

Senin, 17 Oktober 2011

Menjadi Seperti yang Kau Pinta


Teringat masa kecilku kau peluk dan kau manja
Indahnya saat itu buatku melambung
Disisimu terngiang hangat napas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu



Kau inginku menjadi yang terbaik bagimu
Patuhi perintahmu jauhkan godaan
Yang mungkin ku lakukan dalam waktu ku beranjak dewasa
Jangan sampai membuatku terbelenggu jatuh dan terinjak



Reff:
Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji tak kan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuh maumu



Andaikan detik itu kan bergulir kembali
Ku rindukan suasana basuh jiwaku
Membahagiakan aku yang haus akan kasih dan sayangmu
Tuk wujudkan segala sesuatu yang pernah terlewati



Kembali ke: Reff
(Yang Terbaik Bagimu (Jangan Lupakan Ayah)- Ada Band)


Ayah, tahukah kau kini hari-hariku tak semanis dulu?
Setiap pagi tak ada lagi tawa, 
yang ada hanyalah keresahan dalam hati
Hari-hariku kuhabiskan untuk duduk tenang,
berusaha memahami semua kata yang terlontar
dan menyimpannya rapi dalam otakku


Setiap malam aku berjanji pada setumpuk buku
untuk 'menyuplainya' ke otakku
Namun mataku tak lagi sanggup menangkap tulisan-tulisan itu
Badanku terlalu lelah
dan rasa kantuk seketika menyergapku


Ayah, meski aku harus mengorbankan semua tawaku
aku mau, aku ikhlas
Aku rela tak lagi dapat berlarian seperti dulu
Aku rela tak lagi dapat menghabiskan waktuku
dengan bercanda hingga sore bersama teman-temanku


Tapi, maafkanlah aku Ayah..
hingga aku tumbuh sebesar ini,
aku masih belum dapat membanggakanmu
aku masih sering merepotkanmu dengan semua ulahku


Ayah, aku hanya ingin membuatmu bangga
aku ingin melihat senyum di wajahmu
dan menjadi seperti yang kau pinta....



Minggu, 09 Oktober 2011

Sembilan Sepuluh Sebelas (09-10-11)

Pagi ini aku bangun pukul lima dan langsung bergegas mandi. Selesai mandi, Arum, sepupuku datang. Rencananya hari ini kami mau gowes ke rumah Tante di Pendowoharjo, Sewon, Bantul.
Setelah selesai bebenah, akhirnya aku dan Arum berangkat. Di jalan kami banyak sekali bertemu dengan orang-orang yang juga sedang asyik bersepeda. Walau tidak saling mengenal, kami saling menyapa entah lewat senyum ataupun bel sepeda. Karena kami belum sarapan, kami mampir ke Soto Bu Mulyono untuk sarapan. Selesai sarapan kami melanjutkan perjalanan dan mampir sebentar di Masjid Al Wafa untuk sekedar mengambil gambar. Alhamdulillah yah, dapet deh akhirnya foto matahari di pagi yang mendung ini.
hasil jepretan; matahari di pagi yang mendung (kiri), arum dengan sepedanya (kanan)
Pukul tujuh akhirnya aku dan Arum sampai ke rumah Tante. Kami mendapat sambutan yang meriah dari anjing-anjing milik tetangga Tante. Aku langsung bergegas melihat adik kecilku yang baru berumur11 hari, Fira. Jenuh bermain dengan Fira, karena ditinggal tidur, akhirnya aku main bareng Fadhil, Dhea, sama Farrel. Mulai dari nonton film, mainan mobil, main tembak-tembakan, sampai main bola. Ga disangka ternyata Pak Walgiyo, guru sejarahku dan Pak Isdiyono, guru matematikaku datang ke rumah Tanteku buat lihat adik bayi. Ekspresi yang ga bakal aku lupain yaitu ekspresinya Pak Isdiyono waktu lihat aku muncul dari dalam rumah Tanteku. Beliau geleng-geleng sambil bilang, "Astaghfirullah Za, kok kamu nyasar sampai sini?" (-,-")
Karena hari semakin siang dan badan sudah sangat lelah, akhirnya aku menghabiskan 3 jam untuk nonton film kartun sambil ngobrol bareng Fadhil. Sehabis Asar akhirnya aku pamit pulang. Pulangnya aku diantar Fadhil sampai puskesmas (ga tahu puskesmas mana). Awalnya kami lewat pegunungan mungil selatan PPHI. Ga tahunya lihat rumah yang ada papan namanya "NASIRO" dan setelah beberapa lama aku baru sadar kalau itu rumahnya Rasyid, temen sekelasku. Karena cari jalan yang lengang akhirnya aku lewat belakang Masjid Agung dan secara otomatis lewat rumahnya Vega dan ketemu Vega sama Faqih yang kebetulan ada di depan rumah. Karena terlanjur lewat situ dan mau nyebrang jalan susah, akhirnya aku sama Arum lewat Lapangan Paseban lalu ke timur yang ada lampu merahnya biar nyebrangnya lebih mudah dan aman. Ga tahunya ketemu sama Toni, temen smpku dengan motor berkecepatan tinggi ┐(⌣.⌣")┌. Di dekat rumah Lia, temen smpku juga, aku minta Arum buat jadi model dadakan. Dengan background sawah yang hijau bak permadani, foto hasil jepretankupun cukup memuaskan. Puas berfoto-foto ria, akhirnya kamipun pulang sekaligus mengakhiri pengalaman yang indah hari ini. Pokonya hari ini adalah hari untuk menebus semua emosi yang kemarin bergejolak tak menentu. (งˆ▽ˆ)ง(´▽`ʃ♡ƪ)

Sekian cerita ga penting dari saya,
Ini ceritaku, apa ceritamu? :D

Kamis, 06 Oktober 2011

OKT


OKT?! OKT yang panas, OKT yang hampa. Masih di balik senyum palsuku aku melangkah sendirian. Mengais sisa-sisa kebahagiaan bagai pemulung tapi tanpa ingin diberi rasa kasihan. Mencoba mengerti akan arti hidup dan bersyukur meski hati terasa begitu perih di setiap hembus nafas. 
Dari balik pintu, aku seperti pencuri. Dari balik tembok, aku seperti pencuri. Dari balik senyumku, aku seperti pencuri. Dengan mata berbinar seolah tak tahu apa-apa, seolah tak pernah tersakiti. Dengan percaya diri meyakinkan kepada semua orang, "Aku baik-baik saja".

. . . . O . . . . K . . . . T . . . .

OKT?! OKT terakhir di sini, di 1 Bantul JHS. Semua kenangan tentang kamu, dia, mereka, dan kita tak akan pernah terlupa. Amarah, senyum, canda, tawa, tangis, dan cinta tetap akan membekas di relung jiwa. Tinggal menghitung hari, dan semuanya berakhir. Aku akan punya episode baru yang mungkin tanpa kamu, dia, atau mereka di sisiku. Begitu pula dengan kamu, dia, dan mereka. Kita berjalan tak lagi beriringan. Mulai mengenal "orang-orang baru", dan mulai melupakan "orang-orang lama" meski awalnya telah berjanji tak akan melupakan. Semua sibuk dengan kehidupan yang baru. Tapi tenanglah, jangan sesali semua rasa yang pertemukan kita, karena dirimu, dirinya, dan mereka kan slalu ada di hati, di hatiku..

Selasa, 27 September 2011

Rasa


Semua terasa menyakitkan, dan tak ada yang mengerti...
Hari-hari berjalan begitu cepat dengan hiasan sakit yang terus mendera. Langkah kaki terasa begitu berat, begitu pula dengan senyum yang selama ini selalu terpajang. Setiap pagi selalu ada janji untuk kembali bangkit, tapi ketika siang menjelang janji itu tinggal janji. Senyum tak selamanya dapat menyembunyikan tangis. 
Dalam benak, penuh sesak emosi yang tak terungkapkan. Ingin rasanya berbagi, tapi semua mustahil adanya. Tak akan ada orang yang mau peduli walau hanya sekedar diam mendengarkan. Semua terasa tak akan pernah berarti, untuk siapapun.
Aku kini tahu, Semua orang punya kehidupan sendiri-sendiri, dan tak sepantasnya aku berharap banyak akan ada yang mau peduli denganku, dengan semua rasaku.
"Hatiku hancur, dan jika kau bertanya mengapa, hati ini jauh lebih hancur karena aku tak dapat menjelaskan apa sebabnya"

Minggu, 18 September 2011

Jatuh Cinta


Menyukai seseorang, mengagumi setiap kata dan semua yang ada pada dirinya. Lalu sebuah kalimat melesat ke luar dari mulut, "Aku jatuh cinta padanya". Hmm, begitu manis rasanya jatuh cinta. Ada yang meloncat-loncat di hati. Begitu menggelikan ternyata jatuh cinta itu. Sulit rasanya untuk menjelaskan apa itu jatuh cinta. 
Tahun berganti tahun, dan ternyata rasa itu masih belum jenuh singgah di hati kecil ini. Rasa yang tadinya begitu indah tanpa cacat sedikitpun. Tapi seiring berjalannya waktu semua terasa berbeda. Muncul rasa sakit di sela-sela keindahannya. Sakit yang semakin menjadi-jadi meski terkadang untuk sesaat rasa sakit itu hilang hanya karena sebuah senyuman.
Kini, rasa sakit itu adalah hal biasa. Tak ada kegelisahan dan rintihan karenanya. Sakit itu adalah sahabat. Sakit yang telah mengajari arti sebuah pengorbanan, sakit yang telah menguatkan, sakit yang melukis sebuah tawa, dan sakit yang membuat semuanya ada. Sakit itu adalah bagian dari jatuh cinta. Konsekuensi.
Sepertinya jatuh cinta itu memang lucu. Dalam waktu satu detik saja sudah berganti arti. Jatuh cinta itu sakit. Sesakit jatuh dari lantai 8, terlempar kererimbunan pohon berduri, dan tenggelam dalam lumpur hitam. Ya, jatuh cinta.


Sabtu, 17 September 2011

Lonely Girl



Malam Minggu yang menyedihkan bagiku. Berkawan segelas jus dan setumpuk buku, aku membiarkan tubuhku terterpa angin malam. Sesekali aku mendongak ke langit. Namun tak satupun bintang yang mau ikut menemaniku malam ini. Ya, sama halnya dengan suasana hatiku. Malam ini langit mendung.
Semua hal berlalu begitu cepat. Entah apa yang telah membuatku menjadi seperti sekarang ini. Aku selalu merasa sendiri meskipun di sekelilingku banyak sekali orang. Aku seperti tak punya siapa-siapa. Aku merasa asing setiap kali aku bertemu dengan orang padahal aku sudah mengenalnya cukup lama. Ada sesuatu yang menggoyang-goyangkan tubuhku sehingga rasanya aku akan tumbang. Tak ada pisau yang menyayat hatiku. Tapi seringkali hati ini terasa sangat perih dan aku tahu pasti ada seberkas luka di hatiku. Tapi untuk apa sebenarnya aku peduli dengan lukaku ini. Kepedulianku akan luka ini juga tak akan merubah keadaan ini. Seringkali aku membohongi diriku sendiri. Semata-mata hanya ingin membuat diriku tersenyum di atas sakit yang kurasakan. Terus, dan aku akan terus membohongi diriku sendiri. Meski aku masih terus merasa sendiri, setidaknya kebohongan ini membuat hatiku lebih tenang.

Rabu, 14 September 2011

Kerinduanku


Saat aku melihat burung berterbangan di atas hamparan rumput yang hijau, aku ingin sekali rasanya bergabung dengan burung-burung itu. Aku ingin terbang bebas dan menikmati betapa indahnya alamku. Aku selalu merasa nyaman ketika hembusan angin membelai lembut kerudungku, matahari bersinar terik menggambar sebuah bayangan untukku, dan rerumputan berwarna hijau terhampar luas di sekelilingku.
Kini aku benar-benar rindu saat-saat di mana aku bisa merebahkan tubuhku di hamparan rumput yang luas dan menikmati awan-awan putih di langit. Aku rindu dapat duduk menatap hamparan rumput hijau sambil menunggu matahari kembali ke singgasananya. Aku rindu saat-saat kebebasan itu..

Selasa, 13 September 2011

untuk seseorang, untuk semua orang


untuk seseorang yang selalu meyakinkah bahwa aku bisa,
untuk seseorang yang selalu mengalihkan pandangannya ketika pandangan kami bertemu,
untuk seseorang yang selalu tertawa ketika aku berbicara,
untuk seseorang yang selalu menghargai setiap kerja kerasku,
untuk seseorang yang selalu menyebutku gila,
untuk seseorang yang selalu membuatku menangis dan tiba-tiba tertawa dan begitu sebaliknya,
untuk seseorang yang selalu menatapku tajam ketika aku bersedih,
untuk seseorang yang selalu mengajariku tetap tersenyum,
untuk seseorang yang selalu menggila bersamaku,
untuk seseorang yang selalu menemaniku pulang dengan sepedanya,
untuk seseorang yang selalu mengelus kepalaku,
untuk seseorang yang selalu memanggil namaku,
untuk seseorang yang selalu tersenyum kepadaku,
untuk seseorang yang selalu membagi ilmunya denganku,
terimakasih telah menorehkan sejuta warna dalam hidupku
kalian telah membuatku sadar bahwa aku tak pernah sendiri

tulisan ini untuk semua orang yang selama ini ada di hidupku..
teman-temanku, kakakku, dan bayanganku sendiri..

Senin, 12 September 2011

Secuil Cerita


Woyyy semuanya!!! :D Hari ini gue perdana TPM loh.. Alhamdulillah yach, ga lancar (>_<). Soalnya tadi perut ga bisa diajak kompromi. Bukan laper loh, tapi itulah biasa masalah perempuan. Hmm, tapi senengnya minta ampun bisa ngicipin yang namanya TPM.
Ga nyangka udah hampir tiga tahun gue ada di tempat ini, di sekolah gue tercinta. Dan sekarang sudah waktunya gue berusaha keluar dari tempat ini. Bukan karena gue ga cinta lagi sama tempat ini, tapi karena ini sebuah keharusan. Keharusan yang buat gue nyesek abis. Tanya kenapa? Karena di tempat ini gue tau apa itu teman, apa itu cinta monyet, dan pastinya di sini gue belajar banyak hal dari temen-temen gue yang penuh warna-warni alias penuh perbedaan. 
Buat temen-temen gue, makasih ya buat 'rangkulan'nya di kala gue sedih, buat 'gandengan tangan'nya saat gue ragu, buat 'api-api semangat'nya ketika gue terpuruk. Maaf untuk kesekian kalinya atas luka yang pernah tergores.(< ´⌣`)/
Buat bapak/ibu guru, makasih untuk semua waktu yang udah diluangkan buat mendidik dan mengajar Riza. Maaf sering ribut saat pelajaran di kelas, 'nandingin' bapak/ibu guru yang sedang ngasih penjelasan, dan pastinya ngomongin kejelekan bapak/ibu guru. Maaf ya pak, bu.. (┎˘▽˘┒)
Buat diri gue sendiri, semangat terus. Jangan pernah takut akan masa depan. Setiap ada pertemuan ada perpisahan. Setiap kehidupan ada kemarin, sekarang, dan besok. Jangan pernah takut kehilangan sesuatu/seseorang. Karena sesungguhnya Tuhan tak akan membiarkan makhluk-Nya sendirian, membiarkan makhluk-Nya terpuruk. Tuhan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.(∫˘▽˘)∫

Sekian, Wassalam (ˇʃƪˇ)